Sabtu, 21 Maret 2015

KAU DAN HUJAN



Hujan ini selalu mengingatkanku akan dirimu, Bang!. Yang menjaga masa kecilku dengan sangat baik. Yang merelakan tubuh mungilmu menjadi lebam oleh tangan mak karena menuruti keinginanku. Hujan ini, Bang, tetap menjadi penghantar kenangan-kenanganku yang merajuk saat kau tinggal pergi ke kedai. Lalu kau akan berjanji di depan tatapan tajamku dengan suaramu yang lembut, "Nanti abang belikan adek biscuit marie dan agar-agar rentengan, ya". Lalu akupun menanti kepulanganmu dengan suka cita di halaman yang luas tempat kita berguling-guling ketika hujan namun kini berubah menjadi kebun karet. Dan aku akan berlari sekuat tenaga manakala derit rem sepeda Phoniexmu mulai kudengar.
Ah, Bang!. Rasanya baru kemarin saja kita berdua dipukul mak secara bergantian lantaran aku memaksamu untuk menemaniku bermain bola saat hujan deras. Di lain waktu, aku memintamu menyeretku dengan pelepah pinang melalui turunan menuju sungai yang dikelilingi kebun jeruk dan kolam ikan bapak. Lalu kaupun mengguncang-guncang tubuhku saat mengetahui aku terjungkal karena kau menyeretku terlalu kencang. Bang, degub rinduku demikian kencang ingin melihat rupamu kini.

Kandis, 20 September 2014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar