Hujan ini selalu mengingatkanku akan dirimu, Bang!. Yang menjaga
masa kecilku dengan sangat baik. Yang merelakan tubuh mungilmu menjadi lebam
oleh tangan mak karena menuruti keinginanku. Hujan ini, Bang, tetap menjadi
penghantar kenangan-kenanganku yang merajuk saat kau tinggal pergi ke kedai.
Lalu kau akan berjanji di depan tatapan tajamku dengan suaramu yang lembut,
"Nanti abang belikan adek biscuit marie dan agar-agar rentengan, ya".
Lalu akupun menanti kepulanganmu dengan suka cita di halaman yang luas tempat
kita berguling-guling ketika hujan namun kini berubah menjadi kebun karet. Dan
aku akan berlari sekuat tenaga manakala derit rem sepeda Phoniexmu mulai
kudengar.
Ah, Bang!. Rasanya baru kemarin saja kita berdua dipukul mak secara
bergantian lantaran aku memaksamu untuk menemaniku bermain bola saat hujan
deras. Di lain waktu, aku memintamu menyeretku dengan pelepah pinang melalui
turunan menuju sungai yang dikelilingi kebun jeruk dan kolam ikan bapak. Lalu
kaupun mengguncang-guncang tubuhku saat mengetahui aku terjungkal karena kau
menyeretku terlalu kencang. Bang, degub rinduku demikian kencang ingin melihat
rupamu kini.
Kandis, 20 September
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar